Kamis, 26 Juni 2014

Mengapa islam mensunnahkan untuk mencukur bulu kemaluan



HIKMAH MENCUKUR BULU KEMALUAN DARI SISI MEDIS : MENCEGAH TUMBUHNYA KUTU KEPITING

Dasarnya adalah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. Beliau mengatakan,

وقت لنا في قص الشارب وتقليم الأظفار ونتف الإبط وحلق العانة أن لا نترك أكثر من أربعين ليلة

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari."

(HR. Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa'i)

Subhanallah, baru ini kami membaca tentang artikel tentang KUTU KEPITING yang dialami oleh sebagian orang. Ternyata kutu ini hidup dan berkembang biak di daerah yang berbulu lebat dan lembab. Kebanyakan orang yang mengalaminya pun yaitu orang yang jarang mencukur bulu kemaluan dan menjaga kebersihannya.

Seketika jadi teringat hadist Nabi diatas dan hikmah dibalik sunnah yang mulia ini.

Kutu kelamin (Pediculosis Pubis) atau sering disebut dengan kutu kepiting (crabs) adalah serangga parasit yang ditemukan terutama di daerah kemaluan atau alat kelamin manusia. Istilah kepiting diberikan karena tampilan mikroskopiknya yang menyerupai kepiting.

Kutu kemaluan berwarna abu-abu, oval, Arthropoda berkaki enam. Setiap 1 sampai 2 mm, membuat kutu kemaluan kecil dari kutu kepala, yang merupakan spesies yang berbeda. Kutu kemaluan bertelur (nits disebut) pada kasar rambut-rambut tubuh yaitu, kemaluan, rambut perianal, rambut paha, rambut perut dan rambut ketiak. Kutu dewasa hidup dengan menghisap darah dan tidak bergerak jauh dari telur mereka (Frenkl & Potts, 2007; Leone, 2007; Link, 2007)

Gejala infeksi kutu kelamin:

1. Gatal dan terbakar di daerah kemaluan

2. Gatal dapat menyebar karena kutu kelamin bergerak ke daerah basah lain dari tubuh seperti ketiak

3. Gatal akan memburuk pada malam hari

4. Menggaruk intens dan lama dapat mengakibatkan kulit terluka dan dapat menjadi terinfeksi oleh bakteri.

sumber : sahabat Facebook.com